Friday, 4 March 2016

Dadakan Pangrango (3.019 mdpl)

Perjalanan ini saya mulai bersama 12 teman lainya. Berawal dari jenuhnya dengan kuliah, akhirnya kita putuskan untuk bolos kuliah dan memilih liburan agar otak tidak hanya tau tentang teori-teori saja. Kebetulan salah satu temen saya Chendwi mempunyai villa deket Cibodas Cianjur, letaknya tidak terlalu jauh dari pos pendaftaran Taman Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Setalah semuanya setuju untuk berlibur di Villa temen saya, akhirnya kita persiapkan diri dan besoknya kita berangkat.

Kita memilih motor sebagai kendaraan yang menemani kita untuk menempuh jauhnya jarak Bandung – Cianjur. Karena tempat tinggal kita yang berjauhan jadi Kita memilih meetpoint di Cimahi yaitu rumah temen saya Gilang, agar lebih dekat dengan tujuan. Perjalanan kita mulai jam 22.00 WIB dari Cimahi dengan rute Padalarang – Cianjur – Cibodas. Kita sengaja memilih jalan malam agar tidak terkena macet. Sekitar jam 00.30 kita sudah sampai di Villa teman saya.
Setibanya di Villa kita tidak langsung beristirahat melainkan meributkan tujuan wisata kita besok. Saya coba memberi masukan untuk mendaki gunung Gede Pangrango. Temen saya pertamanya tidak yakin karena diantara kita Cuma saya dan Chendwi yang mempunyai pengalaman naik gunung, lalu persiapan kita juga bukan untuk ke gunung. Tapi setelah saya sotahu dan bilang ke teman-teman saya bahwa diatas sana ada warung (pengalaman saya ke Papandayan, bahwa di gunung ada warung), alhasil pemikiran temen saya jadi berubah perlahan demi perlahan. setelah mempunyai rasa penasaran dan terpancing juga setelah menanyakan kepada Om Google tentang Gunung Gede Pangrango. Akhirnya saya memberikan masukan lagi agar pendakiannya tidak ngecamp atau pulang pergi dan biasa disebut ‘tektok’, lalu pendakian kita mulai dari malam hari. Awalnya temen-temen saya masi ragu tapi akhirnya mau juga.

Esok paginya jam 10.00 WIB, saya dan Gilang mencoba mengurus simaksi pendakidan ke kantor pendaftaran TNGGP, karena kalo dilihat di web kalo mau mendaki ke TNGGP harus boking maksimal satu minggu sebelumnya. Karena yang mendaki tidak terlalu banyak dan masih ada kuota untuk hari ini, akhirnya kita dapat registrasi on the spot. Harga tiket masuk perorangnya cukup mahal yaitu Rp.22.500 perhari untuk hari biasa. Harga tiketnya sama dengan semeru ketika hari libur. Sekitar jam 13.30 WIB, akhirnya selesai juga masalah simaksi. Waktu yang cukup lama untuk mendapatkan simaksi karena terpotong jam istirahat dan pelayanan yang menurut saya sangat sangat kurang oleh mbak-mbak penjaganya. (tapi untuk sekarang saya tidak tahu apakah masih seperti itu.) ouh iyah, dari keduabelas teman saya, ada dua wanita dan yang ikut hanya 11 saja, satu lagi wanita tinggal di villa. Setelah beres mengurus simakasi, kita putuskan istirahat karena malamnya kita akan mendaki.

Sehabis maghrib kita persiapkan perlengkapan makanan dan obat-obatan seadanya. untuk selama pendakian, iyah persiapkan itu saja, tidak ada persiapan alat-alat untuk mendaki. Hehe, karena memang liburan ini sangat dadakan dan awalnya kita tidak merencanakan untuk ke gunung.
Jam 20.00 WIB kita berangkat dari villa dengan 11 cowo dan 1 cewe. Jam 20.30 WIB kita sudah berada di pos pemeriksaan. Pemeriksaan di TNGGP sangat ketat sekali, bahkan kita hampir saja tidak jadi mendaki karena perlengkapan yang kita bawa tidak memadai, tapi kita berusaha mengobrol dan melobi bahwa kita tidak akan ngecamp, kita hanya mendaki sampai puncak lalu langsung turun. Akhirnya kita diperbolehkan mendaki.

Jam 21.00 kita mulai pendakian kita setelah berdoa. Menurut saya pendakian Gunung Gede Pangrango melalui Cibodas sangatlah membuat bete dan melelahkan karena kita harus menaiki anak tangga terus sampai nanti bertemu air panas dan kandang badak. Setelah berjalan 40 menit ternyata teman saya yang cewe tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan, dia meminta untuk turun. Kebetulan ada kelompok yang baru turun, Karena keegoisan kita semua akhirnya kita titipkan temen kita kepada kelompok tersebut untuk menemaninya sampai bawah, hehehe. Kita semua lanjut berjalan lagi.

Jam 01.30 WIB kita sampai di kandang badak. ini pos peristirahatan terakhir, untuk kamu yang ingin muncak. Disinilah terjadi drama yang membuat saya merasa bersalah karena sudah mengajak teman saya mendaki malam dan tanpa persiapan matang. Kaki teman saya Rio mengalami kram dan dia memilih untuk tidak muncak, sedangkan saya tidak membawa perlatan ngecamp. Akhirnya saya mencoba menitipkan teman saya di tenda orang.  Tapi ternyata Rio tidak sendirian, Chendwi dan Lutfi bersiap menemaninya. Setelah masalah beres akhirnya kita melanjutkan lagi perjalan, tidak lama berjalan kita menemukan perimpangan jalan antara ke puncak Gede atau ke puncak Pangrango. Dan bodohnya kita, kita memilih puncak Pangrango karena lebih tingga dari puncak Gede, dengan harapan mendapatkan view yang bagus diatas sana. Perjalanan menuju puncak Pangrango membutuhkan waktu yang sangat lama dibandingkan menuju puncak Gede.

Jam 06.00 WIb akhirnya kita sampai di puncak Pangrango. Dan ternyata view puncaknya sangat garing, bila dibandingkan dengan usaha kita mendaki kepuncaknya yang sangat menguras tenaga. Untungnya ada alun-alun Mandalawangi yang viewnya dapat mengobati kekecewaan kita.
Sekian dari saya.






Ini view dari puncak Pangrango. kita hanya dikasih ruang seluas itu untuk melihat indahnya samudra awan.






Ini view dari Mandala Wangi, saingan Suryakencana Gn.Gede.









Tips untuk mendaki ke TNGGP via Cibodas
-        -  Jangan mengikuti cara saya mendaki
      -Jangan membawa golok atau pisau karena nanti akan disita saat di pos pemeriksaan
-         -  Pakailah sepatu gunung, jangan menggunakan sendal, karena banyak pendaki yang ditolak ijinya - untuk mendaki karena menggunakan sendal. Tracknya juga membuat kaki sakit
-         -  Bawa perlengkapan mendaki yang memadai
-        -   Bawa makanan dan obatan-obatan


Jangan lupa tetap jaga lingkungan dan jangan vandalisme

0 comments:

Post a Comment