Friday, 18 March 2016

Part 2 (Backpacker Tangerang - Papandayan)

       











     Mahameru Mahameru Mahameru, Cuma itu yang ada di otak gua sekarang. Demi mahameru gua relain melepaskan pekerjaan. Mengundurkan diri adalah pilihan terakhir, gua terpaksa harus mengudurkan diri karena tidak bisa cuti – usia gua berkerja belum genap satu tahun. Enggak apa-apa kehilangan pekerjaan yang penting  tidak kehilangan pengalaman. Bagi gua masa muda adalah anugerah dari tuhan yang diberikan kepada manusia hanya sekali dan harus digunakan dengan baik. Gua memilih menggunakan masa muda semaksimal mungkin, gua lakukan apa yang gua mau, gua lakukan apa yang gua suka, gua lakukan apa yang nanti ga bisa gua lakukan disaat tua. Gua yakin semua orang juga pasti ngelakukan hal yang sama. Bagi anak yang baru kemarin lulus sekolah gaji yang gua terima tiap bulannya memang cukup besar. Tapi setelah berpikir kembali apabila tetep memilih pekerjaan ini, ga akan ada perkembangan pada diri gua. Gua sama aja seperti mesin yang setiap harinya hanya bekerja lalu beristirahat, dan begitu terus sampai mati. Oleh karena itu gua putusin untuk mengundurkan diri.

            Sambil menunggu acc surat pengunduran diri, Gua langsung ngeboking tiket kereta, dan bodohnya  karena tidak pernah naik kereta jarak jauh, gua tidak tahu waktu saat high season. Tiket kereta Matarmaja Jakarta-Malang yang diincar sudah habis terjual sampai awal Oktober. Karena keterbatasan dana dan kesibukan dari temen-temen yang berbeda-beda akhirnya kita putuskan untuk gagal ke Semeru. Lalu kita cari alternatif tempat liburan lainya. Setelah browsing-browsing gunung yang dekat dari Tangerang, akhirnya kita di bingungkan oleh kedua gunung. Antara Papandayan atau Cikuray. Cikuray lebih tinggi dari Papandayan tapi menurut informasi yang didapatkan dari browsing bahwa trek Papandayan lebih mudah dibandingkan Cikuray. Karena kita pemula semua, alhasil kita memilih Papandayan.

            H -1 keberangkatan, kita berkumpul untuk mempersiapkan kebutuhan makanan untuk ngedaki. Dasar pendaki karbitan, kita malah sibuk  mempersiapkan makanan dan untuk persiapan alat outdoornya kita hanya mempersiapakan seadanya dan sesuai nalar kita tentang gunung saja.
1.      Jaket, karena digunung pasti dinging.
2.      Alat masak, kalo ga ada ini nanti ga bisa makan.
3.      Tenda, untuk tidur.
4.      Tas carrier, buat bawa barang-barang.
5.      Sepatu atau sendal, bebaslah sepunya anak-anak aja.
6.      Senter, buat malem kalo buang air.
Ya Cuma itu yang kita persiapkan. Kita tidak mempersiapkan sleeping bag, matras, dan obat-obatan. Pendakian kita sangat asal-asalan sekali, namanya juga pendaki karbitan. Korban 5cm.

            Hari H, saatnya berangkat. Sebelum berangkat kita berkumpul di basecamp untuk pembagian barang bawaan. Ketika lagi sibuk dengan barang-barang yang akan dibawa, ada Mail dateng menghampiri kita. Mail adalah abang-abangan yang sudah sangat berpengalaman sama pendakian gunung. Akhirnya kita basa-basi menawarkan Mail untuk ikut bergabung dengan pendakian ini. Tak disangka-sangka ternyata Mail langsung meng’iyakan tawaran kita. Karena Mail sudah berpengalaman, dia coba mengecek kembali persiapan kita dan melihat hasil packing pada carrier kita masing-masing. Setelah melihat persiapan dan hasil packing yang kita lakukan, Mail langsung memberikan komentar  “buseh elu pada egois egois amat, ini carrier masih pada kosong juga. Mending barangnya disatuin aja semua, biar isi carriernya pas, engga longgar. Jadi dibawanya enak”  dia juga menanyakan keberadaan sleeping bag dan matras? Dikarenakan ga punya dan males menyewa, gua jawab dengan entengnya “ngapain bawa gituan? Kan udah ada jaket” Mail langsung diam dan tersnyum. Gua ga tau maksud dari senyumannya apa? Mail kemudian langsung pulang ke rumah untuk melakukan persiapan kebutuhan diirinya. Setelah kembali lagi, Mail menyumbang 4 sleeping bag dan 4 matras yang dia punya. Karena Mail beranggapan packingan yang kita lakukan salah, Akhirnya ia harus merepacking Carrier kita. Setelah mail selesai packing, ternyata tersisa satu carrier kosong dan terapksa di tinggal. Team yang akan mendaki ada enam orang, empat orang membawa carrier, dua orang laginya hanya membawa badan, sebagai pemain cadangan jika nanti ada temen kita yang kelelahan membawa carrier. Itu yang Mail anjurkan kepada kita.

            Waktu sudah menunjukan jam 8 malam. Setelah semuanya sudah selesai, sekarang tinggal berangkat. Mail menganjurkan backpacker sebagai metode perjalanan untuk sampai ke Papandayan. Karena Mail yang lebih berpengalaman, kita mah ikut aja. Dari basecamp kita langsung menuju pasar Induk untuk mencari tebengan kepada truk sayur berplat Z yang ingin kembali ke garut. Buat kamu yang berada di Tangerang cobalah cara ini ketika kamu ingin mendaki gunung yang berada di garut, nantinya kita akan dimintain uang 20ribu satu orang, itu belum di tawar. Nanti sang supir akan mengantarkan ke tempat terdekat gunung yang ingin kita daki. Tapi untuk sekarang kayanya menumpang truk sayur bukanlah hal rahasia lagi bagi orang Tangerang. Hampir setiap weekend ada saja yang ramai-ramai menggamblok carrier dan menunggu truk sayur di pasar Induk.

            Jam setengah 10 malam kita berangkat dari Tangerang menuju Garut menggunakan truk syaur.  Oh iya, kita berangkat seminggu setelah lebaran. Waktu itu karena malam dan jalanan sangat sepi sekali. Waktu tempuh Tangerang – Garut hanya membutuh kan waktu sekitar 5 jam lebih. Jam 3 subuh kita sampai di alun-alun Cisurupan. Truk tidak bisa mengantar sampai Camp David karena dari alun-alun Cisurupan sudah ada mobil pick up yang akan mengantar kita sampai Camp David dengan tarif Rp20.000 perorang. Alun-alun Cisurupan sampai Camp David sudah menjadi trayek mobil pick, jadi tidak ada mobil lain yang mengantar pendaki sampai Camp David kecuali jika kita bawa kendaraan sendiri. Camp David adalah tempat pendaftaran kita untuk mendaki Papandayan.

            Sesampainya di alun-alun Cisurupan kita langsung mencari sarapan untuk mengisi perut sebelum memndaki. Setelah makan, kita langsung berangkat menuju Camp David.  Karena tidak setuju dengan tarif yang ditwarkan sang sopir pick up dan dari awal tujuan kita adalah backpacker jadi kita putuskan untuk jalan samapai keatas, tidak menggunakan jasa mobil pick up (ini perpaduan backpacker sama pelit). Selama perjalan kita selalu menoleh ke belakang, berharap ada mobil pick up kosong yang akan memberikan tebengan ke kita sampai Camp David. Sekitar sejam kita jalan tapi belum juga mendapatkan tebengan, berkumandanglah Adzan subuh. Kebetulan lokasi masjidnya tidak jauh dari kita, kita langsung solat sekalian istirahat. Seelesainya solat subuh, kita istirahat dulu di masjid sambil nunggu matahari terbit. Ketika sedang asik bercanda gurau, ada seorang bapak-bapak yang membawakan air panas, teh dan gula untuk kita. Katanya buat ngantein badan. Wah baik sekali yah. Akhirnya kita ngobrol panjang lebar dengan bapak ini. Gua ga tau namanya, hehe. Di sepanjang jalan menuju Camp David, banyak pohon sayuran. Jika kamu bisa melakuakan pendekatan dengan warga setempat, kamu coba minta sayuran dengan basa-basi membelinya, pasti akan dikasih gratis.

            Matahari mulai terbit, kita putuskan untuk berjalan kembali. Ga lama kita berjalan, banyak rombongan-rombongan pendaki yang menggunakan pick up menyusul kita. Tatapan tajam, senyuman manis dan kalimat “duluan yah!” selalu terdengar dari setiap pendaki yang melewati kita menggunakan pick up. Kita tetap menikmati perjalanan ini walaupun dalam hati menyesal karena sudah menyusahkan diri sendiri. Ga lama dari itu terlihat sebuah mobil pick up kosong yang berjalan kearah kita. Kita coba memberikan simbol mengacungkan jempol sambil di goyangkan ke kiri dan kanan. Berhentilah mobil itu sejajar dengan kita.

“ikut A sampe atas”
Mail membuka obrolan sambil berjalan kearah pintu mobil, menghampiri sang supir.
“sok, ada berapa orang?”
“ada enam A!”
“yawdah 60ribu sampe atas!”
“kurangin atuh A”
Sambil memasang muka melas, mail mencoba menawar
“yawdah 50ribu dah”
“ga jadi deh A kalo segitu mah”
“sok atuh berapa maunya”
Sang supir mulai merasa bosan
“30ribu sampe atas A”
“ya sok naek-naek cepet”
Sang sopir mengeluarkan kepalanya sambil menghitung jumlah anggota kami.

            Akhirnya kita berangkat menuju Camp David menggunakan mobil pick up dengan tarif Rp5.ooo perorang. Ternyata tadi kita selama berjalan belum ada setengah untuk sampai Camp David. Trek yang kita lalui masi jauh dan semakin keatas trek yang dilalui pun semakin sulit. Pantas saja supir-supir pick up memnita harga mahal untuk mengantarkan pendaki sampai Camp David.



            Jam 8 kita sudah sampai di Camp David. Kita langsung melakukan proses pendaftaran. Waktu itu, tiket masuknya hanya Rp2500, itu sudah maksimal berkemah tiga hari di Papandayan. Setelah melakukan pendaftaran dan nyantai-nyantai cantik, kita langsung melakukan pendakian. Jalur yang kita lalui untuk mendaki cukup landai. Setelah berjalan 30 menit, nanti kita akan bertemu sebuah kawah belerang yang baunya amat, teramat, sangat. Walaupun sudah memakai masker tapi baunya seolah-olah dengan sadis sengaja merobek masker kita dan memaksa aroma nan sedap yang dikeluarkan dari kawah itu.


          
  Setelah tiga jam berjalan, akhirnya kita sampai di Pondok Salada. Disini terdapat sebuah lapangan yang sangat luas, dan banyak pendaki-pendaki yang ngecamp disini untuk melakukan perjalanan menuju tegal Alun esok pagi. Kita langsung mencari sebuah tanah lapang dibawah pohon-pohon untuk mendirikan tenda. Selesai diriin tenda kita langsung nyantai-nyantai cantik. Yes, seneng banget bisa berada disini, bener-bener ngerasain suasana alam. Tapi ternyata gua belum bisa nikmatin alam. Yang gua lakukan di alam, sama aja kaya di rumah. Cuma males-malesan doang di tenda sampe malem tiba.


         

   Malem pun tiba, ketika semua sudah tertidur gua dan Fadli masih ga bisa tidur. Ga tau sugesti karena baru pertama kali di alam atau apalah. Semakin malem semakin dingin. Ah tai banget, ko dingin banget sih. Duh, padahal udah make jaket double. Mungkin faktor dingin juga kali yang bikin ga bisa tidur. Gua terus ngeliatin jam di HP, berharap cepat-cepat datengnya pagi, tapi semakin gua sering liat, gua ngerasa waktu ga jalan. Sekitar jam 2 malem, gua coba tidur, ga lama setelah meremin mata, badan gua langsung kedinginan parah. Gua langsung susah nafas. Disaat itu, impian gua tentang semeru langsung hilang dari kepala gua. Gua berkata dalam hati, ga mau-mau lagi naik gunung. Disitu gua udah pasrah, kalo emang harus meninggal di Papandayan. Dengan sekuat tenaga gua coba berdiri, gua minta bantuan temen gua buat bikin api unggun. Ternyata bikin api unggun di gunung ga segampang ya gua bayangin, di tambah lagi ranting-ranting pohonya basah terkena embun. Untung aja Fadli bawa sepirtus, jadi agak gampang untuk membakar kayunya. Setelah api unggu menyalah, gua langsung menghangatkan badan. Gua memilih jalan-jalan ga jelas, biar badan terus bergerak -- biar badan ga terlalu dingin. Setelah badan mulai cape, gua kembali ke tenda dan mencoba tidur kembali. Akhirnya gua bisa tidur dengan nyenyak sampe pagi.

            Besok paginya gua membatalkan ngecamp dua malem, karena takut kejadian semalem keulang kembali. Disini gua baru sadar bahwa persiapan gua ke gunung sangat kurang. Untung saja ini masi di Papandayang, tidak jadi ke semeru. Andai aja ke semeru jadi tanpa pengetahuan dan bekal yang cukup, mungkin sekarang gua udah tewas. Ternyata tuhan masi memberikan gua hidup. Terima kasih Allah S.W.T. setelah memasak  untuk makan siang, kita putuskan untuk kembali pulang, meninggalkan Papandayan, walaupun stock makanan masih banyak.

            Seperti yang kita lakukan sebelumnya, dari Camp David, kita tidak langsung menggunakan jasa mobil pick up. Kita berjalan dulu kebawah sampai menemukan tebengan, dan ternyata benar, backpacker itu penuh dengan keajaiban. Kita mendapatkan tebengan lagi dengan membayar Rp5000 perorang sampai alun-alun cisurupan. Dari alun-alun cisurupan, kita mencari tebengan sampai terminal bus, niatnya kita akan menggunakan bus untuk pulang dikarenakan truk sayur dari garut tidak menerima penumpang untuk ke Tangerang soalnya mereka membawa sayur-mayur yang membuat truknya penuh.
           
            Setelah di terminal kita berubah pikiran, kita memilih mencari tumpangan sampai cileunyi Bandung. Akhirnya dapet tumpangan mobil pick up yang menawarkan sampai Cipanas. Kita berpikir wah lumayan tuh sampe Cipanas bogor. Ternyata Cipanas bukan hanya di bogor saja, ternyata Garut juga punya Cipanas. Dari Cipanas kita berjalan menuju jalan raya Garut – Bandung sambil mencari tebengan. Akhirnya kita mendapatkan sampai alun-alun Leles garut. Di Leles kita putuskan untuk istirahat makan nasi goreng. Waktu itu sudah jam 8 malam, tapi kita masi terombang-ambing di kota orang. Setelah selesai makan, kita lanjutkan jalan lagi. setelah setengah jam jalan akhirnya ada mobil pick up yang menawarkan tumpangan kepada kita. Kebetulan dia ingin ke cileunyi. Yeah, tuhan memang baik.

            Setelah beberapa menit mobil berjalan, sampailah di Nagreg. Supirnya ingin istirahat dulu di warung pinggir jalan. Sambil istirahat, sang supir mencoba mengajak ngobrol kita dan ternyata sang supir adalah anak yang suka mendaki juga. Dia menanyakan kita mau pulang kemana? Kita menjawab ke Tangerang. Terus dia bilang, yawdah bareng aja sama gua, gua mau balik ke jakarta. Tuhan benar-benar membuktikan sebuah keajaiban dalam backpacker. Demi kita, sang supir mengurungkan niat untuk melewati jalan tol. Sang supir memilih rute jalan biasa karena membawa kita. Karena kebaikan sang supir, kita berinsiatif patungan untuk mengasih uang bensin kepada supir sebagai pengganti kebaikan dia.

            Itulah pengalaman gua backpacker sekaligus mendaki gunung. Gua sangat berterimakasih kepada Allah S.W.T. terma kasih juga kepada kedua orang tua gua yang selalu berdoa buat gua. Terimakasih buat temen-temen perjalanan Arief, Fadli, Mail, Riki, dan Surya. Terima kasih buat semua temen-temen yang sudah mendukung.
Jika ada yang mau ditanyakan, langsung saja tanyakan di komentar.

Terima kasih sudah membaca :)

0 comments:

Post a Comment