Wednesday, 24 August 2016

Ranu Kumbolo (part 5)





Perjalanan dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo biasanya hanya membutuhkan waktu empat jam. Tapi perjalanan kita benar-benar ngaret dikarenakan banyak hal-hal aneh yang kita alami. Kita memulai perjalanan setengah lima sore dari Ranu Pani. Awal perjalanan semuanya masih baik-baik saja, karena fisik kita masih kuat dan memang trek menuju Ranu Kumbolo sangat nyantai. Sepanjang jalan kita sering berjumpa sama pendaki yang turun dan dengar-dengan kabar ada juga pendaki yang dihukum karena mengambil bunga Edelweis, pendaki tersebut disuruh mengembalikan lagi ketempat semula. Ada juga pendaki yang dibawa dengan tandu, entah kenapa gua juga gatau, pokonya saat itu banyak sekali pendaki yang turun karena sebelumnya ada 2 tanggal merah disatu minggu yang sama sehingga menjadikan extra extra long weekend. Bahkan kuota pendakian Semeru dibuka sampai 3000 orang lebih. Setelah pendakian massal tersebut dampaknya sangat terasa untuk kebersihan gunung Semeru, banyak sekali sampah-sampah yang berserakan disekitar Gunung Semeru.
Oke, lanjut lagi ke perjalanan. Sebenernya unutk estimasi waktu dari pos ke pos gua sudah lupa dikarenakan perjalanan ini sudah setahun lalu, tapi kejadian-kejadian aneh selama perjalanan masi terekam walaupun sudah sedikit samar-samar. Sepanjang perjalanan dari Ranu Pani sampai pos tiga lancar, hanya saja temen saya Nurul yang baru pertamakali mendaki muntah-muntah terus mungkin karena masuk angin. Sekitar jam 10 malam kita memutuskan istirahat di pos tiga karena kondisi Nurul semakin memburuk. Di pos tiga kita juga bejumpa dengan pendaki dari Surabaya yang fisiknya juga mulai melemah, ia mendaki dari jam dua siang. Waw, lama banget. Dari jam dua siang, jam 10 malam masih di pos tiga, ini perjalanan yang sangat panjang sepertinya. Denger-denger, niatnya mereka akan ngecamp di pos tiga dikarenakan konidisi tubuh anggotanya ada yang kurang fit dan  sudah tidak ada pendaki lain yang naik. Ternyata tuhan masih memberikan kebaikan untuk mereka, setelah lama menunggu di pos tiga datanglah kelompok kita sebagai pendaki yang terakhir.

            Setelah istirahat dan berbaur dengan pendaki asal Surabaya akhirnya mereka akan ikut jalan bareng kita menuju Ranu Kumbolo. Disinilah aroma-aroma mistis mulai terasa. Dari pos dua, perjalanan menuju Ranu Kumbolo Nurul yang paling depan memimpin jalan dikarenakan tracknya yang tidak terlalu luas dan kondisi nurul yang harus diperhatikan. Untuk menghancurkan sepinya suasana Nurul yang memang memegang komando perjalanan mencoba menyuruh kami berhitung bersautan-sautan. Kebetulan posisi kita memanjang  berbentuk seperti ular. Nurul berteriak “satu” dan mulailah bersaut-sautan menghitung, kebetulan saya berada diposisi nomer sembilan, dan Fajar berada diurutan terakhir yaitu nomer 10. Satiap kali Nurul mengajak menghitung, saya jarang sekali dengar suara Fajar untuk menyaut untuk menyebutkan angka 10 sebagai posisi dia dan untuk meyakinkan bahwa kelompok kita lengkap. Mungkin karena baru kenal, Fajar masi sedikit malu atau memang sifatnya yang pendiam. Setiap kali mengajak berhitung dan saya tidak mendengar teriakan dari Fajar, saya selalu menoleh kebelakang  untuk memastikan bahwa kondisi Fajar baik-baik saja.
            Ketika kita bergegas mau melanjutkan perjalanan dari pos tiga menuju Ranu Kumbolo, seperti biasa Nurul selalu mengajak berhitung. Berhitung pun dimulai, hitungan pun sekarang berakhir di angka 10, ini tandanya kelompok kita lengkap. Tapi anehnya kenapa Nurul mengulang berhitung, dan setelah hitungan selesai kelompok kita masi tetap lengkap. gua sudah mengajak berjalan, tapi Nurul belum mau jalan, sambil masang muka penasaran dan kesel dia mengajak menghitung ulang, dan hitungan masi sama berakhir pada angka 10. Gua mulai bingung sama Nurul. “udah ayoo jalan, nanti keburu kemaleman” sambil bicara, gua mulai melangkahkan kaki, berharap yang lain mengikuti langkah gua. Tiba-tiba Nurul bicara dengan lantang “eh, entar dulu tungguin dua lagi, tadi kan berangkat bareng masa mao ditinggal”. Anak-anak yang lain mulai bingung. Gua pun bertanya “dua lagi siapa? Kan dari tadi kita 10 orang” terus Nurul jawab dengan muka bingung “lah daritadi pas berhitung kan ada 12, masa sekarang 10 doang”. Wah disini gua mulai ngerasa ada yang ga beres, soalnya setiap kali berhitung, selalu putus di angka sembilan yaitu gua, jarang banget gua denger Fajar ikut berhitung. Terus kenapa tiba-tiba Nurul bilang setiap berhitung terakhirnya di angka 12. Kondisi saat itu jam 11 malem kalo ga salah, dan suhu di pos tiga kurang lebih 10drajat, udara dingin dan kejadian aneh yang menimpa kelompok kita berhasil membangkitkan bulu kudu. Alhasil kita langsung ambil langkah seribu meninggalkan pos tiga, untungnya kita dapet barengan pendaki Surabaya, jadi lebih ramai lagi perjalanan kita.

            Kurang lebih jam 12 malem kita sampai di Ranu Kumbolo, karena udara Ranu Kumbolo yang cukup menusuk tulang kita langsung bergegas mendirikan tenda. Malam itu, ada lumayan banyak yang mendirikan tenda di Ranu Kumbolo, tapi suasana malam saat itu sangat sepi tidak ada pendaki yang berada diluar tenda, mungkin dikarenakan tidak boleh membuat api unggun, akhirnya pendaki lebih memilih mengahatkan tubuh di dalam tenda. Selesai mendirikan tenda kita semua langsung beristirahat. Suhu di Ranu Kombolo memang sangat ekstrim sehingga mampu menciptakan udara dingin dan butiran-butiran es diatas tenda dan dedaunan. Udara dingin Ranu Kumbolo sangat menggangu tidur, gua takut kejadian hipotermia di Papandayan terjadi lagi. Karena sangat lelahnya berjalan jauh, dan setelah gua coba paksain buat tidur, Alhamdullilah gua bisa tidur nyenyak dan saking nyenyaknya sampe bangun kesiangan. Di Ranu Kumbolo emang enak banget buat males-malesan, buka tenda liat view danau Ranu Kumbolo dengan pemanis bukit-bukit disekelilingnya sambil makan Indomie rebus pake cabai; Ini hal sederhana yang mahal dan susah didaptkan di perkotaan.
 Setelah puas males-malesan  dan makan siang di Ranu Kumbolo, gua, Arif, Fajar, Lek Wono, Rizky dan Tanjung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Kalimati dengan tujuan ke puncak. Yang lain tidak ikut ke puncak dan lebih memilih menunggu di Ranu Kumbolo. Jam satu siang kita berempat berangkat menuju Kalimati. Tanjakan Cinta, jalanan yang terlihat tidak begitu menanjak tapi pas dirasakan langsung, ternyata lumayan menguras tenaga juga. Disini banyak pendaki yang menjadi sombong, karena saat dipanggil oleh temennya dia tidak mau menoleh, termasuk gua juga sih. mungkin karena korban film 5cm. Walaupun disaat itu gua mempunyai banyak cabe-cabean tapi gua tetep mengikuti tradisi Tanjakan Cinta, yaitu tidak boleh menoleh kebelakang disaat melewati Tanjakan Cinta. Gua terus membayangkan muka Putri Titian berharap nanti turun dari semeru bisa berjodoh sama Putri Titian wkwkwkwk. 



 


            Setelah puas menikmati Tanjakan Cinta, sampailah dipenghujung jalan diatas bukit yang memberikan keindahan yang luar biasa. Kita bisa mendapatkan dua pemandangan keren sekaligus antara Ranu Kumbolo dan Oro-oro Ombo. Wah perjalanan mendaki semeru memang sangat memanjakan mata. Saking takjubnya dan tidak mau sampai kehilang moment langsunglah kami mengeluarkan persenjataan untuk axis yaitu tongsis dan smartphone. Untuk mencapai pos Cemoro Kandang ada dua jalan. Jalan yang pertama kita harus berbaur dan menari dengan bunga Verbena Brasiliensis. Jalur ini yang biasanya dipilih pendaki disaat akan menuju Kalimati karena banyak pendaki yang ingin melihat secara dekat dan mengabadikan momentnya bersama bunga tersebut. Oh iya, bunga yang di Oro-oro Ombo itu bernama Verbena Brasiliensis, bukan Lavender ya gaes. Oke lanjut ke jalur kedua. jalur kedua adalah melewati jalan setapak di bahu bukit. Dari atas bukit Tanjakan Cinta kita ambil arah kiri, nah pemandangan Oro-oro Ombo dari atas bukit ini pun ga kalah cantik. Jalur ini biasanya dilalui pendaki ketika kembali menuju Ranu Kumbolo. Walaupun ada dua jalur yang berbeda tapi tujuannya tetap satu yaitu Cemoro Kandang sebagai pos persihnggan pendaki untuk beristirahat sejenak.




            Siang itu di Pos Cemoro Kandang. Panasnya terik matahari membuat tenggorokan ngebul mengeluarkan asap karena saking keringnya. Cemoro Kandang adalah tempat yang cocok untuk beristirahat karena dikelilingi pohon-pohon yang mempunyai daun rimbun dan disana juga terdapat penjual minuman, gorengan dan semangka. Minuman yang dijajakannya juga tidak begitu banyak macamnya. Hanya ada air mineral, Mizone dan minuman bersoda. gua tertarik dengan Mizone yang terlihat sangat menyegarkan dan menari berliuk-liuk mencoba menggoda. Akhirnya gua tergoda, tanpa pikir panjang langsung mengambil, memutar tutup botolnya, meneguk habis hingga tetes terakhir. Brrrr,, gila seger bangat. Tapi kesegaran gua tiba-tiba sirna ketika abang abangnya memberitahu harga perbotol Mizone adalah Rp.15.000. wah kalo beli di Alfa bisa dapet 5 nih hahaha. Tapi yawdahlah ya, dia juga cape bawanya dari bawah sampe atas butuh waktu yang lama juga, jadi menurut gua ya wajar sih. Gua ngasih uang  20ribu, masi ada kembali 5ribu. Sekalian berbagi rezeky sama penjualnya, gua minta kembaliannya dituker semangka aja. Dikasihlah dua potong semangka yang terlihat seperti air sungai yaitu diam-diam menghanyutkan. Jika dipandang semangka ini biasa-biasa aja, warnanya juga pucat tidak begitu cerah. Setelah gua nyobain tuh semangka, ternyata inilah yang namanya kesegeran sejati. Manisnya semangka dan dinginnya semangka yang terbuat dari dinginnya alam sekitar membuat rasa semangka Semeru berbeda dengan semangka yang di toko-toko buah. Gua rela ngeluarin uang 30rb Cuma buat jajan semangka saja hahaha. Semangka bener-bener bikin ketagihan pokonya beda banget sama semangka yang ada di toko-toko maupun swalayan-swalayan besar. Hal ini bener-bener gua buktiin sendiri. setelah turun dari Semeru, kita nginep di kota Malang. Temen – temen gua sengaja beliin satu buah semangka yang masih bulet untuk gua, mungkin karena harganya murah dan mungkin karena dia ngeliat pas di Semeru, gua suka banget sama semangka. Pas gua cobain tuh semangka ternyata rasanya beda jauh banget. Walaupun rasa semangkanya manis tapi tetapnya terasa adem dimulut, rasa manisnya beda. Pokoknya semangka Semeru, Semangka terenak yang pernah ada. Oh iya jangan terlalu banyak juga jajan Semangka di Semeru apalagi sambil makan gorenganya juga, bisa-bisa kena BAB. Hal ini gua rasain sendiri, saking lapernya gua makan gorengan sebagai pengganjal perut dan makan semangka untuk menghilangkan dahaga. Akibat sifat rakus gua, akhirnya gua terkena BAB. wah sumpah betapa ribetnya ketika kena BAB. hampir berapa jam sekali harus boker dan terkadang habis boker mao boker lagi. Abis dah gua jadi bahan bulyan temen-temen.


 Setelah puas menikmati alam Cemoro Kandang yang sangat memanjakan diri sambil memakan semangka, kita melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Dari Cemoro Kandang menuju Kalimati jalanannya tidak begitu menanjak masi ramah untuk pendaki pemula, hanya saja tracknya yang kita injak adalah pasir. Pasirnya bener-bener nyiksa banget sih, soalnya setiap pijakan orang yang didepan kita debunya menyebar kemana-mana dan membuat kita susah bernafas. Jalan menuju Kalimati cukup jelas, tinggal ikuti jalan setapak saja sampai nanti bertemu pos Jambangan. Dari Jambangan kita bisa melihat view kegagahan Sang Mahameru.  




0 comments:

Post a Comment